PERAN MANELEO DALAM PERKAWINAN ADAT USIA DINI DI DESA KULI AISELE KABUPATEN ROTE NDAO
Abstract
This study examines the role of Maneleo in early-age customary marriage practices in Kuli Aisele Village, Rote Ndao Regency, and its impact on the social and cultural life of the community. The problem addressed is the persistence of early-age marriage despite national law setting the minimum marriage age at 19 years. The objective of this study is to identify the role of Maneleo as a customary authority and to analyze the resulting impacts. This research uses an empirical method with a descriptive qualitative approach, collecting data through interviews, observations, and literature studies. The respondents include Maneleo, community leaders, and couples involved in early-age marriages within the last five years. The findings show that Maneleo plays a dominant role as the highest customary authority in determining the legitimacy of marriage, acting as a mediator and negotiator in determining bride wealth (belis), leading traditional rituals, and preserving cultural values. This role contributes to the continuation of early-age marriage as part of tradition and social stability. The impacts are both positive and negative, including cultural preservation and strengthened kinship, as well as socio-economic risks, disrupted education, and potential conflicts with state law. Therefore, collaboration between customary institutions and the government is necessary through education and policy integration.
References
DAFTAR PUSTAKA
Abror. (2020). Hukum perkawinan dan perceraian. Bantul, Yogyakarta: Ladang Kata.
Amin, Garancang, & Abunawas. (2023). Konsep umum populasi dan sampel dalam penelitian. Jurnal Pilar: Jurnal Kajian Islam Kontemporer, 14(1), 23.
Arliman, L. (2018). Hukum adat di Indonesia dalam pandangan para ahli dan konsep pemberlakuannya. ResearchGate. Diakses dari https://www.researchgate.net/publication/327054005
Asni. (2019). Urgensi sinkronisasi hukum perkawinan di Indonesia perspektif perlindungan perempuan dan anak. UNES Law Review, 3(2), 182.
Asy’arie, A. H., dikutip dalam Fatimah, S. (2023). Peran kepala adat dalam penyelesaian konflik masyarakat adat di Lombok Tengah (Skripsi). Universitas Muhammadiyah Mataram.
Aswan, M., dkk. (2025). Hukum adat dan kearifan lokal Mesakada Sulawesi Selatan. Makassar: Penamuda Media.
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2024). Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi V). Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Diakses dari https://kbbi.kemdikbud.go.id
Braun, V., & Clarke, V. (2019). Reflecting on reflexive thematic analysis. Qualitative Research in Sport, Exercise and Health, 11(4), 589–597. https://doi.org/10.1080/2159676X.2019.1628806
Dedihasriadi, L. O. (2023). Hukum adat dalam sistem ketatanegaraan Indonesia. Jurnal Rechtsstaat, 7(1).
Fanggidae, Y. M., & Boimau, S. (2023). Nilai tuturan dalam tahapan perkawinan adat masyarakat Desa Suelain Kecamatan Lobalain Kabupaten Rote Ndao. Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra, 16(1), 101–114.
Fatimah, S. (2023). Peran kepala adat dalam penyelesaian konflik masyarakat adat di Lombok Tengah (Skripsi). Universitas Muhammadiyah Mataram.
Fauzi, A., & Handayani, R. (2020). The new age limit for marriage in Indonesia: A legal and social review of law No. 16 of 2019. Journal of Law and Human Rights, 4(1), 55–68.
Fitria, N. (2018). Perkawinan di bawah umur dalam perspektif hukum perkawinan di Indonesia (Undergraduate thesis). IAIN.
Helmi. (2019). Kepemimpinan adat dalam masyarakat modern. Jakarta: Prenada Media.
Jaya, I., Rasan, F. G., & Bertho, E. M. (2024). Peran Damang kepala adat dalam perkawinan adat Dayak Ngaju di Kecamatan Jekan Raya Kota Palangka Raya Provinsi Kalimantan Tengah. Edusociata Jurnal Pendidikan Sosiologi, 7(1).
Kahar. (2024). Perkawinan Bugis kontemporer. Makassar: Unhas Press.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. (2025). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Diakses dari https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/hukum%20adat
Mulyani, L. (2023). Traditional communities in Indonesia: Law, identity, and recognition. London & New York: Routledge.
Putra, I. G. G. D. (2025). Hukum perkawinan adat pada masyarakat Lampung pesisir. Jurnal Multidisiplin Ilmu Akademik.
Seubekti, R. (1976). Pokok-pokok hukum perdata. Jakarta: Intermasa.
Simarmata, R. (2020). Hukum adat dan hak atas tanah: Tantangan dan pengakuan di era modern. Pustaka Larasan.
Soepomo, R. (2022). Hukum adat. Universitas Lampung. Diakses dari https://repository.lppm.unila.ac.id/47458/1/Hukum%20Adat.pdf
Soepomo. (2022). Peran kepala adat dalam masyarakat hukum adat Ammatoa Kajang. Jurnal Governance, 5(1), 25–32. Diakses dari https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/governance/article/download/39286/35671
Sulistiani, S. L. (2021). Hukum adat di Indonesia. Jakarta: Sinar Grafika.
Suyikati. (2025). Pemaksaan kedewasaan karena pernikahan: Antara fiksi hukum dan perlindungan anak. Lex Generalis, 6(6), 4.
UNICEF. (2017). Child marriage: Latest trends and future prospects. New York: UNICEF Publications.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Pasal 18B ayat (2).
Wirdanengsih. (2025). Antropologi politik: Kuasa, budaya, dan identitas dalam masyarakat. Jakarta: Rajawali Pers.
Yusriadi. (2021). Hukum adat dan dinamika masyarakat Indonesia. Depok: Rajawali Pers.
Zawa, A. (2020). Perkawinan adat dalam perspektif sosial budaya di Manggarai (Tesis). Universitas Nusa Cendana.
Zia, H. (2025). Hukum adat dalam perspektif konstitusi Indonesia. Jurnal Data dan Integritas, 5(1).











